Monday, November 20, 2006 | 7:32 PM

Jawara


Lelaki itu roboh diterjang peluru tentara Jepang. Ratusan mata memandangnya dengan tatapan ngeri sekaligus lega. Suasana di Pasar Pisang, di sebelah Kali Grogol, kali yang membelah di antara Palmerah dan Kemanggisan itu tersentak. Sementara si tentara Jepang berlalu dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi tak lama kemudian dia kembali dan menatap mayat yang sudah tak bergerak itu. Diambilnya lagi pistol yang sudah masuk dalam sarungnya. Dor..timah panas itu muntah dari moncong pistol, seperti ingin memastikan malaikat pencabut nyawa sedang bertugas. Setelah itu barulah sang kempetai meninggalkan kerumunan entah kemana. Kejadian itu, berlangsung saat Jepang berkuasa di Jakarta. Di sebuah lapang, yang kini menjadi sebuah perusahaan makanan kecil yang terkenal, Cap Orang Tua.

Tak ada catatan sejarah yang menuliskan kejadian itu. Kecuali memori para orang tua yang masih hidup dan melihat dengan mata kepala sendiri. Sejarah yang kita kenal memang sejarah para orang besar, kisah para penakluk dan sama sekali tidak berpihak pada orang kecil, kaum terpinggirkan, bandit atau jawara.

Lelaki yang roboh itu, diduga adalah seorang jawara pasar. Dulu disebut centeng pasar. Karena itu cukup beralasan bila sebagian pedagang di Pasar Pisang agak lega dengan kematiannya, meski dengan cara sadis. Tanpa pengadilan. Mungkin lagak lagu jawara itu sudah demikian meresahkan sebagian warga.

Kata "jawara" sering disebut "juara" oleh sebagian lidah orang Betawi. Tapi bila ditelusuri, rupanya dua kata ini mengacu pada pengertian yang sama: paling jago, paling kuat, paling pintar, paling tahan banting dan paling-paling yang lainnya.

Di Rawabelong, kawasan yang bersebelahan dengan Kemanggisan, kisah si Pitung adalah contoh jawara yang melegenda. Ada yang mengatakan Pitung berasal dari Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Sebab di sana ditemukan sebuah rumah yang diduga pernah ditempatkan Robinhood dari B etawi ini. Tapi menurut SM Ardan, budayawan Betawi, rumah di Marunda itu bukan rumah Pitung, tapi salah satu rumah yang pernah jadi korban perampokan Pitung. Ardan menyebut Rawabelong sebagai asal-usul Pitung.

Kisah ini diperkuat ketika aku baca buku cerita anak-anak, "Cerita Rakyat Betawi jilid I" yang ditulis oleh Rahmat Ali. Di sana dikatakan bahwa Pitung asalnya dari Rawabelong.

Kejawaraan Pitung adalah kepahlawanan. Sebab dia menjadi jawara untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda dan para tuan tanah. Jawara zaman itu, dekat dengan para ulama.

Tahun 1930-1940-an, adalah masa "keemasan" para jawara di Kemanggisan. Banyak anak muda yang bergaya jawara dengan menyelipkan golok di pinggangnya. Meski, golok itu belum tentu keluar sari sarungnya.

Para jawara muda itu tak punya tempat bernaung tetap. Hidupnya mengelana dari satu kampung ke kampung lain. Bila malam tiba, mereka akan tidur di emperan mushola. Bila ada acara perkawinan, mereka akan datang meski berlainan kampung. Kedatangan mereka biasanya bergerombol antara 6-8 orang.

Para tamu tak diundang ini tentu saja akan mengejutkan tuan rumah dan anak-anak muda tempat di mana perhelatan diadakan. Orang yang pertama memberi tahu kedatangan para jawara ini adalah "pengejek", seksi repot dalam acara perkawinan. Dari pengejek inilah tuan rumah tahu bahwa mereka kedatangan para jagoan.

Biasanya, pengejek akan membawakan makanan kepada para jawara ini. Tapi, mereka ditempatkan ditempat yang gelap jauh dari riuh rendah suasana pesta. Para jawara ini tidak protes. Tampaknya mereka cukup tahu diri.

Ada juga para jawara yang cukup nakal. Mereka main kartu atau sabung ayam. Tapi, bila seorang ustad lewat, perjudian kelas kampung itu akan berhenti sementara dan memberi jalan lewat bagi sang ustad. Tentu saja dengan raut muka yang kemerahan karena malu. Jawara juga tahu sopan santun, rupanya.

Bukan cuma itu, malahan banyak jawara yang dekat dengan lingkungan agama. Salah seorang menantu Kyai Haji Junaidi, dikenal sebagai jawara pada masanya. Nasib buruk menimpa sang menantu ketika dia, karena perselisihan, membunuh salah seorang warga di Kemanggisan. Dia pun masuk penjara. Kini jawara itu sudah almarhum. Kisah para jawara pun tak banyak kita dengar lagi.

Tapi, cerita main golok itu masih kita saksikan hingga saat ini. Mereka lebih dikenal dengan sebutan preman. Mereka biasa mangkal di terminal, pasar atau di tempat keramaian. Bedanya, para preman itu lebih banyak bikin orang resah. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah preman kelas atas.

Image hosted by Photobucket.com

2 comments