Tuesday, October 17, 2006 | 3:42 PM
Kue Saptu
Saat membereskan dapur, di sebuah laci saya temukan cetakan kue yang terbuat dari kayu. Kayu sepanjang kira-kira 30 sentimeter itu, terdiri dari beberapa cekungan, dengan motif kembang-kembang. Warnanya cokelat kehitaman.
Rupanya, inilah salah satu perangkat untuk membuat kue saptu, panganan khas warga Betawi menyambut Lebaran. Kue ini dibuat dengan menggunakan tepung kacang ijo. Dulu, almarhum ibu mertua ku biasa membuat kue ini.Tapi sekarang sudah tak ada yang mau bikin lagi dengan alasan ribet alias tidak praktis.
Rasanya enak, manis dan terasa ada sari kacang ijonya. Biasanya, hampir semua warga Betawi membuat kue yang satu ini sebagai kue wajib setiap lebaran. Sekarang, kue saptu bisa dibeli di toko-toko kue. Tapi kata orang-orang, rasanya lain. Tepung kacang ijonya kurang terasa.
Masih di laci yang sama, saya pun menemukan cetakan kue yang terbuat dari kaleng. Modelnya motif kembang kemangi. Aku masih ingat, dulu biasanya kue ini ada di kampung-kampung . Sebagian orang menjadikannya sebagai oleh-oleh. Tapi dipastikan, lebaran kali ini kue yang satu itu pun bakalan absen dari ruang tamu keluarga.
Namun, satu tradisi yang masih kuat terasa adalah tape uli yang dicampur dengan tape ketan hitam. Dua macam tape ini dimakan dengan cara tape uli yang tidak digoreng itu dicocolin ke tape ketam hitam. Tapi awas, jangan terlalu banyak sebab perut akan terasa panas.
Panganan lebaran di masyarakat Kemanggisan, seperti orang Jakarta pada umumnya adalah percampuran dari berbagai budaya seperti Belanda dan Cina. Seperti tape, asinan, atau kue nastar. Tapi tidak ada satu pun makanan khas Timur Tengah, misalnya nasi kebuli.
Ada satu lagi yang cukup unik, yaitu roti yang dimakan dengan cara mencocolkan pada sirup atau biasa disebut orson. Warnanya biasanya merah. Saya tidak pernah melihat orson yang berwarna selain merah. Cara makan seperti ini sudah berusia seratusan tahun. Diduga cara makan model ini diadaptasi dari gaya Belanda, karena ada roti dan sirup.
Masyarakat Betawi adalah masyarakat yang terbuka terhadap hal-hal baru. Mereka tidak segan mengambil budaya pakaian atau makanan dari budaya lain selama itu terasa nyaman.
Pertemuan tradisi kuliner warga Betawi setiap Lebaran tidak lebih sebagai cerminan sebuah masyarakat yang menghargai keberagaman.
Monday, October 16, 2006 | 6:55 PM
Tukang delman
Tepat di ujung pasar Palmerah, seberang rel kereta api, berkumpul sekelompok tukang delman. Biasanya mereka mangkal di hari minggu, menunggu orang-orang yang sesekali menggunakan jasa mereka dari pasar ke Senayan. Sekai angkut tarifnya Rp 7000. Bisa dinaiki oleh 5-6 orang.
Kuda-kuda yang dihela itu tampaknya harus berjuang melintasi jalanan di Jakarta yang sarat kendaraan roda dua dan empat. Tak jarang kuda-kuda itu harus melawan arus sebab tak ada jalur khusus delman. Mereka kini menjadi alat transport yang tidak praktis. Mereka yang menggunakan jasa delman sebenarnya hanya untuk menyenangkan hati anak-anak saja. Sebab, banyak anak yang jarang kuda di Jakarta.
Pada hari ketika beberapa orang anak di Kemanggisan disunat, sudah menjadi tradisi mereka akan diarak menggunakan delman dengan dihiasai kertas warna-warni di belakangnya, diiringi musik marawis berisi pujian kepada Nabi. Rombongan pengantin sunat ini berjalan mengelilingi kawasan sekitar Kemanggisan hingga Palmerah.
Bila menengok jauh ke belakang, kisah para tukang delman dengan kudanya itu selalu muncul sebagai bagian tak terpisahkan warga masyarakat pada umumnya. Kisah "Nyai Dasima," seorang nyai pribumi yang jadi gundik seorang Belanda jaman dulu, memunculkan tukang delman sebagai sosok yang kuat. Ada pula kisah tukang delman yang muncul dalam karya sastra Sunda "Gogoda ka nu ngarora" (godaan bagi anak muda) karangan Caraka (kalau tidak salah) yang terbit pada tahun 1960-an, menceritakan tukang delman dari Palmerah pada malam hari menuju Pasar Baru membawa seorang yang akan melakukan aksi pembunuhan. Delman yang dipakai pada malam hari itu menggunakan lampu gas. Kisah ini merupakan sekuel dari " Baruang Ka Nu Ngarora" (racun bagi anak muda) karangan DK Ardiwinata yang terbit sekitar tahun 40-an.
Tukang delman juga biasanya diidentikkan dengan sosok yang miskin dan marginal. Namun, kisah Haji Suid lain lagi. Meski berprofsi sebagai tukang delman, lelaki yang pernah hidup pada tahun 1950-an ini, bisa dibilang cukup berada. Dia mampu berangkat haji, sebuah status sosial yang paling dicita-citakan warga Betawi hingga sekarang.
Haji Suid juga seorang yang pandai mengobati orang dengan menggunakan obat tradisional dan jampi-jampi. Dia adalah menantu Haji Muala (selain Haji Junaidi), yang kisahnya saya tulis dalam "Legenda". Nama Haji Suid kini sebagai gang di Kemanggisan.
Tampaknya, nama jalan di Kemanggisan hanya diangkat dari kisah orang-orang sederhana. Mereka bukan pahlawan yang dengan gigih melawan para penjajah. Cukup seorang guru ngaji (Haji Junaidi), pedagang (Haji Muala) dan tukang delman (Haji Suid). Masih banyak kisah dari nama jala yang berserakan di Kemanggisan.
Para tukang delman yang masih setiap pada profesinya di pasar Palmerah, hanyalah sisa kejayaan delman masa lalu.
| 6:34 PM
kayu nangka
Ada kayu yang banyak digunakan sebagai material pembuat rumah, selain jati, yaitu nangka. Di Kawasan Kemanggisan, kayu nangka biasa digunakan sebagai pilar rumah. Sebab, selain kuat kayu nangka juga tahan rayap. Tapi di rumah kami, kayu nangka digunakan sebagai pintu kamar mandi.
Pada tahun 1970, sebatang pohon nangka berdiri kokoh di halaman rumah mertua, yang kini kami tempati bersama isteri dan dua anak kami. Karena baru membangun kamar mandi, perlu sebuah pintu. Dulu, belum ada pintu kamar mandi dari bahan stainles atau fiber seperti sekarang, yang banyak dijual di toko bangunan. Pilihan satu-satunya ya, pada sebatang pohon nangka yang tumbuh di halaman rumah.
Pohon nangka itu harus rela ditebang. Tukang tebang pohon, banyak keliling kampung dengan membawa peralatan seadanya seperti golok dan gergaji tangan. Mereka menjual jasa pemotongan dengan upah beberapa ratus rupiah. Tukang tebang itu, memberikan jasa dari mulai menebang hingga menjadikan lempengan kayu siap pakai.
Nah, pintu kamar mandi di rumah yang berukuran 1X 2 meter itu, terbuat dari satu batang pohon nangka. Dari pokok sampai pangkal, yang dibelah menjadi tiga bagian. Masing-masing kemudian disambung hingga menjadi satu pintu utuh.
Kayu nangka, adalah kayu favorit banyak orang di Kemanggisan, dan juga Jakarta umumnya. Sekarang, tak banyak ditemui lagi pohon itu. Di rumah kami, pintui kamar mandi itu menjadi "memorabilia" untuk sebatang pohon dan riwayat yang menyertainya.
| 6:12 PM
legenda
Di Kawasan Kemanggisan, banyak ditemui nama jalan yang terambil dari nama seseorang. Biasanya tokoh atau ulama setempat. Di Sepanjang jalur menuju ke kampus Bina Nusantara akan ditemui nama jalan, seperti Kyai Syahdan, Haji Muala, Haji Harun, Haji Junaidi atau Haji Taisir. Masing-masing memiliki kisah sendiri-sendiri.
Jalan Haji Muala, yang terletak dekat dengan Kantor Kecamatan Palmerah, adalah nama sosok yang paling dikenal. Bila Anda melintas naik angkot M24 jurusan Grogol-Slipi Jaya, Anda akan melewatinya. Sebuah jalananan yang hanya mampu dilintasi oleh sebuah kendaraan roda empat.Kuburan Haji Muala terletak persis di tengah jalanan itu. Dan sekarang tentu saja sudah tergusur.
Lelaki ini, hidup pada sekitar awal abad 20. Dia adalah pedagang kain dan pakaian yang cukup maju. Dia berdagang hingga pasar Tanah Abang. Bila hari Jumat tiba, Haji Muala berangkat ke Kwitang untuk ikut pengajian bersama para habib di Kwitang.Haji Muala terkenal dermawan. Maklum tanahnya lebar, terbentang dari Kemanggisan hingga Palmerah. Tapi dulu tanah di sana tentu saja masih murah.
Haji Muala juga dikenal cukup maju dalam soal pendidikan bagi para cucunya. Dia yang mendorong cucu-cucunya untuk masuk ke sekolah Belanda, pada saat banyak di Kemanggisan dan Jakarta umumnya, yang belum mengenal sekolah karena lebih suka memasukkan anak-anaknya ke pesantren atau guru mengaji. Keluarga Haji Muala kemudian dikenal sebagai keluarga terhormat.Nah, tak jauh dari jalan Haji Muala, kira-kira 200 meter ke arah Slipi, terletak jalan Haji Junaidi, tepatnya di Kompleks Kemanggisan. Haji Junaidi adalah menantu Haji Muala. Namun, dalam soal ilmu agama sang menantu lebih mumpuni dibandingkan sang mertua.
Haji Junaidi mengajar mengaji dari Kemanggisan hingga Tanjung Duren, setiap maghrib hingga isya. Dia menempuh perjalanan Kemanggisan-Tanjung Duren sejauh 3 kilometer dengan berjalan kaki. Bila akan mengajar maghrib, Haji Junaidi akan berangkat pada pukul 5 sore.Karena jasa-jasanya, banyak orang tua yang anaknya khatam quran memberi imbalan sepetak sawah atau sebidang kebun kepada Haji Junaidi. Dengan cara ini Haji Junaidi punya banyak tanah.
Thursday, October 12, 2006 | 6:58 PM
Image

| 6:38 PM
kemanggisan dulu
Kalau anda melewati kawasan jalan Palmerah Barat, setelah lewat pasa Pal Merah, anda akan bertemu dengan pos polisi. Pos polisi dengan arsitektur zaman Belanda. Mungkin inilah satu-satunya kantor polisi di Jakarta yang menggunakan bangunan peninggalan zaman Belanda.
Nah, persis di depan pos polisi itu ada pasar tradisional. Orang-orang menyebutnya pasar "Bintang Mas". Tapi dulu pasar ini bernama pluis. Sampai sekarang, penduduk asli di sekitar Pal Merah dan Kemanggisan masih menyebutnya Pluis. Kabarnya, Pluis berasal dari bahasa Belanda yang artinya "pasar di pinggir jalan."
Dan memang, lokaisinya berada di pinggir jalan. Bila anda menyusuri jalanan ini, anda akan menemukan kuburan yang tak begitu luas, Kuburan Kemanggisan namanya. Kuburan yang sudah ada sejak tahun 1930-an ini, tadinya sebuah tanah lapang saja. Di kuburan inilah bayi berkepala dua, Syafitri, yang sempat menarik perhatian warga Jakarta dikuburkan.
Setelah melewati kuburan Kemanggisan, anda bisa berbelok ke arah kiri kuburan dan akan menemukan sebuah kali yang tak begitu lebar. Orang-orang menyebutnya Kali Sandang. Karena berada tepat dengan komplek perumahan PT. Sandang.
Menurut cerita orang dulu, Kali Sandang adalah tempat peristirahatan kuda-kuda milik tukang delman atau para penarik gerobak. Jadi, setelah mereka bekerja, kuda-kuda itu akan dimandikan dan diistirahatkan sejenak di kali ini. Tentu saja, karena dulu airnya jernih dan masih diliputi banyak pohon bambu.
Tapi, masih menurut kabar orang dulu, bila maghrib telah lewat kali ini terasa angker. Nah, jumlah penduduk di antara pasar pluis dan Kali Sandang kala itu, hanya enam kepala keluarga saja. Salah satu keluarga adalah berasal dari etnis Jawa. Tapi tidak dijelaskan dari Jawa Tengah atau Jawa Timur. Catatan itu diceritakan oleh Bapak Mertua Saya, Haji Hanapi Andi, yang kini berusia 86 tahun dan masih segar dalam mengingat kisah masa kanak-kanaknya.
| 6:23 PM
asal-usul
Inilah catatan tentang sebuah kawasan di Jakarta Barat yang dihuni oleh berbagai golongan masyarakat, Kemanggisan. Tak ada yang tahu persis asal-usul nama ini. Tapi bisa dikira-kira, dekat dengan kata "manggis" nama buah yang berwarna hitam, dan sering dijadikan bahan tebak-tebakan di jaman dulu. Penggunaan nama tempat yang khas di Jakarta tempo dulu, seperti sering kita dengar nama Kemandoran, Kebayoran, Petamburan
|
About
Name: iman firdaus
Location: Jakarta, kemanggisan
Iman Firdaus, lahir di Bandung. Saat ini bekerja sebagai wartawan Tabloid Investigasi di Jakarta.
View my complete profile
Recent Post
Archives
Shoutbox
|