Wednesday, November 29, 2006 | 6:42 PM
Dewi Kanti
Apakah artinya agama resmi? Indonesia hanya mengenal lima agama yang diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah: Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Di luar itu semua bukan agama resmi. Dalam istilah lain, agama "ilegal". Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang tidak mencantumkan agama resmi patut dicurigai, setidaknya oleh para birokrat. Akibatnya, mereka yang menganut agama kejawen, kepercayaan atau konghuchu harus gigit jari, sebab terbuang dari komunitas yang diakui oleh pemerintah. Bukan hanya itu, langkah ini sering berlanjut pada tindakan diskriminiasi, sebab para penganut agama "tidak resmi" itu tidak memperoleh dokumen kewarganegaraan yang semestinya seperti surat nikah, kartu keluarga (KK) sampai surat lain yang dibutuhkan.
Dewi Kanti adalah salah satu contohnya. Sebagai penganut agama kepercayaan Sunda Wiwitan, dia harus berjibaku dengan petugas catatan sipil Kabupaten Kuningan (Jawa Barat), gara-gara dia ingin menikah dengan cara leluhur menikahkan mereka. Padahal sang suami, Okky Satrio yang Katolik tidak keberatan dengan permintaan Dewi. Beberapa tokoh agama lain pun seperti Islam, tidak mempersoalkannya.
Beruntung kini Dewi sudah menikah. Aku bertemu dengannya dalam salah satu acara dialog keagamaan di gedung Jakarta Media Centre (JMC) awal tahun 2006. Dia bukan sebagai pembicara, tapi tampil sebagai juru kawih bersama kelompok kecapi Cianjuran yang dia pimpin. Setelah ngobrol di akhir acara, dia memberi alamat rumahnya. Rupanya, dia tetangga sebelah. Hanya beda RW, tapi masih dalam satu kawasan di Kemanggisan bahkan jaraknya dengan rumahku tidak begitu jauh.
Dewi tinggal di kawasan padat penduduk, tak jauh dari warung Encum yang terkenal dengan nasi uduk dan soto Betawinya. Bersama suami, keduanya menjalani hidup sebagai wiraswasta. Dewi memang belum berani menampakkan identitasnya sebagai penganut kepercayaan. Tapi, bila dibutuhkan, dia akan mengakuinya.
Lingkungan tempat aku dan Dewi tinggal adalah kawasan yang didominasi oleh warga muslim. Mushola dan mesjid mendominasi di sana. Meski tetanggaku sebenarnya lebih banyak warga keturunan Cina yang beragama Katolik dan beberapa konghuchu. Tapi Dewi tetap saja minoritas.
Tapi aku sangat percaya, Kemanggisan adalah kawasan di Jakarta yang paling aman dan paling toleran dari sisi kepercayaan yang dianut penduduknya. Saat kerusuhan berbau etnis berlangsung pada 1998, hiruk pikuk itu tidak sampai ke perumahan di sana.
Aku tidak pernah bertanya pada Dewi, apakah dia merasa nyaman di Kemanggisan. Tapi setahuku dia masih betah di sana.
Dewi adalah buyut dari Madrais. Lelaki asal Desa Cigugur, Kuningan ini adalah salah satu tokoh pendiri sekaligus penyebar agama sunda lama, alias Sunda Wiwitan. Selama hidupnya, Madrais pernah dibuang ke Digul (ada yang bilang ke Ternate, di Maluku) oleh pemerintah Belanda karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. Dia baru pulang ke kampung halamannya pada 1920. Dalam majalah berbahasa Sunda "Mangle" terbitan tahun 1980-an, pernah diulas soal keberadaan Madrais. Aku masih ingat, "Mangle" kala itu menyebut Madrais sebagai tokoh nasionalis yang anti Belanda. Dalam artikel tersebut juga dituliskan aktivitas ritual Madrais dan para pengikutnya, seperti "seba" (memberikan sejumlah hasil bumi) kepada sang hyang wisesa alam.
Menurut Dewi, beberapa ritual para pengikut Madrais hingga kini masih berlangsung di Desa Cigugur. Salah satunya adalah "Upacara Seren Taun", yang dilakukan setahun sekali. Masyarakat Cigugur, secara bergotong royong membawa hasil bumi. Mereka juga mengadakan pagelaran wayang dan kecapi suling pada malam hari.
Penduduk Cigugur sendiri, terbagi dalam dua agama besar: Islam dan Katolik. Banyak orang menduga, itu karena selama rezim Orde Baru, mereka dipaksa harus meninggalkan kepercayaan lamanya dan memilih salah satu agama resmi. Kala itu, dakwah dari kelompok Islam berebut dengan para misionaris Katolik.
Ayah Dewi, Pangeran Jatikusuma, adalah ketua paguyuban penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan di Jawa Barat sekaligus pimpinan yang meneruskan ajaran Madrais. Aku pernah bertemu dengan Jatikusuma di Hotel Preanger, Bandung, dalam acara pentas kecapi suling, ketika aku duduk di bangku SMA. Orangnya tak banyak bicara.
Salah seorang anak Jatikusuma, yang tak lain adalah kakak Dewi, sempat berperkara di pengadilan Jakarta Timur pada 1997. Pasalnya, persis kasus Dewi, mereka ingin menikah dengan cara penganut aliran kepercayaan. Kala itu, kantor catatan sipil tidak mengizinkan hingga berlanjut ke meja hijau.
Buat warga Kemanggisan, sebenarnya ini adalah berkah sebab mereka tidak hanya berdampingan dengan para penganut agama resmi, tapi juga penganut aliran kepercayaan. Aku pernah ditanya oleh Kak Mimi, iparku, penganut kepercayaan itu ada ritualnya nggak? Setahuku ada, tapi tidak rumit. Tapi, mereka lebih menitikberatkan pada ajaran budi dan ahlak yang baik. Bila inti dari agama (agama apa saja) adalah berbuat baik dan mengasihi pada sesama, tak ada alasan untuk menolak kehadiran mereka.
Aku berharap Dewi bebas memeluk dan menjalankan aktivitas kepercayaannya di Kemanggisan. Tanpa cemooh, tanpa diskriminasi.
Tuesday, November 28, 2006 | 9:42 PM
November 1828
"November 1828" adalah judul sebuah film karya sutradara almarhum Teguh Karya. Film pemenang citra ketika film Indonesia masih berjaya ini, menuturkan kisah kepahlawanan para pengikut Pangeran Diponegoro dalam "perang Jawa" pada kurun lima tahun, 1825-1830.
Diponegero kalah.Dia ditahan dengan cara yang sangat "Belanda", yaitu diundang ke sebuah pertemuan bersama panglima perang De Kock, tapi kemudian ditangkap dan diasingkan. Peristiwa itu terjadi hari kedua lebaran. Pelukis Raden Saleh melukiskan penangkapan itu dengan cara yang cerdas. Langit di luar gedung tempat Diponegoro ditangkap telihat mendung. Sementara pasukan Belanda bertubuh pendek tapi berkepala besar. Diponegoro sendiri tetap tenang dengan kepala menengadah ke atas.
Dua tahun lalu, juga di haria kedua lebaran, seniman tari Sardono W.Kusumo mementaskan prosesi penangkapan ini dengan kesadaran orang Jawa. Lembut tapi sarat dengan suasana batin yang bergolak.
Diponegero kemudian diasingkan ke Batavia ( Jakarta) di sebuah gedung yang kini masih megah berdiri "Stadhuis" alias gedung bicara. Kini menjadi Musium Fatahilah Jakarta. Di bagian belakang gedung ini, aku pernah melihat tempat di mana Diponegoro ditahan. Sebuan ruangan sempit dengan borgol yang digelayuti bola besi. Tapi ada yang menyebut, Diponegoro ditahan di bagian depan gedung tersebut. Kemudian Diponegoro di bawa ke Menado dan meninggal di sana.
Dalam catatan musium Fatahilah, hanya Untung Surapati yang bisa lolos dari kekejaman gedung bicara tersebut. Untung adalah pahlawan yang disebut-sebut berasal dari Bali.
Peristiwa yang terjadi di bulan November itu, mulanya hanya soal sepele. Yaitu patok tanah antara milik masyarakat dan milik kompeni hingga berkobarlah perang yang dananya sampai menguras keuangan pihak kompeni di Hindia Belanda. Karena cekak usai perang, kompeni kemudian mengumumkan adanya cultuur stelsel alias tanam paksa. Para petani pribumi dipaksa menanam produk pertanian yang laku di pasar eropa seperti teh, kopi dan cengkeh. Beberapa perkebunan teh yang terhampar di Puncak dan beberapa kawasan di Jawa Barat, adalah salah satu peninggalannya. Di luar Jawa, biasanya untuk tanaman kopi seperti di Deli, Sumatera Utara.
Kisah kuli kontrak yang dipekerjakan oleh kompeni, itu secara bagus digambarkan--salah satunya lewat novel "Koeli" karya Hermina-Skylilofs, sastrawan Belanda yang lahir di Surabawa, Jawa Timur.
Kisah ini terlalu panjang untuk dituliskan. Hanya sekadar pengingat di Bulan November. Selain ada film berjudul "Sweet November"
Tuesday, November 21, 2006 | 5:21 PM
Samardan
Sehari setelah menulis artikel Jawara di sini, aku membaca Kompas yang mengabarkan bahwa SM Ardan tertabrak motor di dekat rumahnya di Rawabelong, Jakarta Barat. Kejadiannya pada Ahad, sekitar pukul 13.00. Ketika itu dia akan mencukur rambut, yang mengharuskannya menyeberang. Demi menghindari mobil yang melintas dia menghindar, tapi sayang dari arah yang berlawanan sepeda motor berkecepata tinggi menabraknya yang menyebabkan seniman Betawi ini patah kaki kanan dan retak di bagian kepala. Lelaki 74 tahun ini kini masih belum sadarkan diri dirawat di rumah Sakit Jakarta Ruang ICU. Sementara si penabrak, lari meninggalkan korban yang sudah tua itu.
Jalan di Rawabelong memang sempit. Sementara kendaraan roda dua dan empat cukup padat, apalagi pagi dan sore hari yang merupakan jam pergi dan pulang kerja. Bukan cuma itu, Rawabelong juga tidak menyediakan sarana yang cukup buat pejalan kaki. Jarak antara jalan raya dan rumah penduduk paling-paling hanya 2 meter.
Rawabelong yang terkenal dengan sentra penjual kembangnya, adalah sepotong jalan tua di Jakarta Barat. Di ujung jalan, tepatnya di pertigaan Rawabelong, ada penjual nasi usuduk yang terkenal yaitu “Nasi Uduk Muri”. Sementara pada ujung yang satu lagi, adalah perempatan Batusari. Batusari adalah nama sebuah pabrik tegel, yang kini sudah tutup. Konduktor Adie MS pernah menjadi kasir di perusahaan keluarga ini.
Aku pernah tinggal selama dua tahun di Rawabelong. Saat puasa, adalah saat paling padat lalu lintas terutama menjelang buka puasa. Hampir semua makanan khas kaki lima dijual di sini dari mulai asinan, tempe mendoan, kolak pisang, biji salak, sampai koktail buah.
Bila hari libur tiba, jalanan tetap macet terutama bagi mereka yang hobi bercocok tanam. Kendaraan roda empat akan diparkir di tepi jalan yang sudah sempit. Biasanya orang-orang membeli pupuk, pot kembang, atau kembang hias lainnya.
Sehari menjelang lebaran, suasana begitu padat dengan orang lalu lalang membeli sebuket kembang yang akan ditaruh di meja pajangan. Harganya akan terus meroket sesuai dengan surutnya waktu menuju malam.
Tradisi yang masih bertahan di Rawabelong adalah para penjual ikan pindang menjelang imlek. Mereka khusus berjualan pada hari, yang biasa disebut konyan itu. Warga Betawi, pada hari itu akan membelikan ikan pindang dan pete buat mertua sebagai tanda kasih. Dan juga kecap.
Kembali kepada Ardan. Aku tidak mengenal lelaki yang bernama lengkap Samardan itu secara pribadi. Tapi sering menyimak beberapa tulisannya di media massa. Pada artikel Jawara, aku mengutip pendapatnya tentang asal-usul Si Pitung. Dia memang dikenal sebagai budayawan Betawi yang cukup otoritatif setelah almarhum Firman Muntaco.
Salah satu kumpulan puisinya bersama Ajip Rosidi dan Sobron Aidit adalah “Ketemu di Djalan” yang terbit tahun 1950-an. Karya lain yang juga cukup monumental adalah Njai Dasima (1965) yang pernah aku kutip juga ketika menulis Tukang Delman di sini.
Karya Njai Dasima versi Ardan adalah “perlawanan” atas versi G.Francis pada 1896 yang berjudul: “Tjerita Njai Dasima, Soewatoe Korban Dari Pada Pemboejoek”. Karya Francis ini, pada zamannya memang tergolong istimewa sampai dibuat film oleh Tan’s Film pada 1929 yang berjudul “Nyai Dasima”. Ini merupakan film bisu pertama yang disutradarai oleh Lie Tek Swie dengan pemain N. Noerhani, Anah, Wim Lender dan Momo.
Pada film yang diadaptasi dari karya Francis ini, sangat kuat terekam pandangan tentang nyai sebagai budak pemuas nafsu para sinyo, yang terasing, bergulat dengan kesenangan dan cinta semu.
Nah, Ardan mencoba mengubah citra nyai itu sebagai konflik batin para perempuan pribumi. Di dalamnya ada, pilihan yang sulit dipungkiri yang melibatlan struktur sosial masyarakat setempat. Meski aib, tapi mereka sesungguhnya menjadi korban dari sistem yang direkonstruksi oleh para kolonialis sendiri.
Monday, November 20, 2006 | 7:32 PM
Jawara
Lelaki itu roboh diterjang peluru tentara Jepang. Ratusan mata memandangnya dengan tatapan ngeri sekaligus lega. Suasana di Pasar Pisang, di sebelah Kali Grogol, kali yang membelah di antara Palmerah dan Kemanggisan itu tersentak. Sementara si tentara Jepang berlalu dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi tak lama kemudian dia kembali dan menatap mayat yang sudah tak bergerak itu. Diambilnya lagi pistol yang sudah masuk dalam sarungnya. Dor..timah panas itu muntah dari moncong pistol, seperti ingin memastikan malaikat pencabut nyawa sedang bertugas. Setelah itu barulah sang kempetai meninggalkan kerumunan entah kemana. Kejadian itu, berlangsung saat Jepang berkuasa di Jakarta. Di sebuah lapang, yang kini menjadi sebuah perusahaan makanan kecil yang terkenal, Cap Orang Tua.
Tak ada catatan sejarah yang menuliskan kejadian itu. Kecuali memori para orang tua yang masih hidup dan melihat dengan mata kepala sendiri. Sejarah yang kita kenal memang sejarah para orang besar, kisah para penakluk dan sama sekali tidak berpihak pada orang kecil, kaum terpinggirkan, bandit atau jawara.
Lelaki yang roboh itu, diduga adalah seorang jawara pasar. Dulu disebut centeng pasar. Karena itu cukup beralasan bila sebagian pedagang di Pasar Pisang agak lega dengan kematiannya, meski dengan cara sadis. Tanpa pengadilan. Mungkin lagak lagu jawara itu sudah demikian meresahkan sebagian warga.
Kata "jawara" sering disebut "juara" oleh sebagian lidah orang Betawi. Tapi bila ditelusuri, rupanya dua kata ini mengacu pada pengertian yang sama: paling jago, paling kuat, paling pintar, paling tahan banting dan paling-paling yang lainnya.
Di Rawabelong, kawasan yang bersebelahan dengan Kemanggisan, kisah si Pitung adalah contoh jawara yang melegenda. Ada yang mengatakan Pitung berasal dari Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Sebab di sana ditemukan sebuah rumah yang diduga pernah ditempatkan Robinhood dari B etawi ini. Tapi menurut SM Ardan, budayawan Betawi, rumah di Marunda itu bukan rumah Pitung, tapi salah satu rumah yang pernah jadi korban perampokan Pitung. Ardan menyebut Rawabelong sebagai asal-usul Pitung.
Kisah ini diperkuat ketika aku baca buku cerita anak-anak, "Cerita Rakyat Betawi jilid I" yang ditulis oleh Rahmat Ali. Di sana dikatakan bahwa Pitung asalnya dari Rawabelong.
Kejawaraan Pitung adalah kepahlawanan. Sebab dia menjadi jawara untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda dan para tuan tanah. Jawara zaman itu, dekat dengan para ulama.
Tahun 1930-1940-an, adalah masa "keemasan" para jawara di Kemanggisan. Banyak anak muda yang bergaya jawara dengan menyelipkan golok di pinggangnya. Meski, golok itu belum tentu keluar sari sarungnya.
Para jawara muda itu tak punya tempat bernaung tetap. Hidupnya mengelana dari satu kampung ke kampung lain. Bila malam tiba, mereka akan tidur di emperan mushola. Bila ada acara perkawinan, mereka akan datang meski berlainan kampung. Kedatangan mereka biasanya bergerombol antara 6-8 orang.
Para tamu tak diundang ini tentu saja akan mengejutkan tuan rumah dan anak-anak muda tempat di mana perhelatan diadakan. Orang yang pertama memberi tahu kedatangan para jawara ini adalah "pengejek", seksi repot dalam acara perkawinan. Dari pengejek inilah tuan rumah tahu bahwa mereka kedatangan para jagoan.
Biasanya, pengejek akan membawakan makanan kepada para jawara ini. Tapi, mereka ditempatkan ditempat yang gelap jauh dari riuh rendah suasana pesta. Para jawara ini tidak protes. Tampaknya mereka cukup tahu diri.
Ada juga para jawara yang cukup nakal. Mereka main kartu atau sabung ayam. Tapi, bila seorang ustad lewat, perjudian kelas kampung itu akan berhenti sementara dan memberi jalan lewat bagi sang ustad. Tentu saja dengan raut muka yang kemerahan karena malu. Jawara juga tahu sopan santun, rupanya.
Bukan cuma itu, malahan banyak jawara yang dekat dengan lingkungan agama. Salah seorang menantu Kyai Haji Junaidi, dikenal sebagai jawara pada masanya. Nasib buruk menimpa sang menantu ketika dia, karena perselisihan, membunuh salah seorang warga di Kemanggisan. Dia pun masuk penjara. Kini jawara itu sudah almarhum. Kisah para jawara pun tak banyak kita dengar lagi.
Tapi, cerita main golok itu masih kita saksikan hingga saat ini. Mereka lebih dikenal dengan sebutan preman. Mereka biasa mangkal di terminal, pasar atau di tempat keramaian. Bedanya, para preman itu lebih banyak bikin orang resah. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah preman kelas atas.
Thursday, November 16, 2006 | 7:48 PM
Haji Hasan
Namanya Haji Hasan bin Haji Junaidi. Perawakannya sedang berkulit putih. Dia lahir sekitar 88 tahun silam di Kemanggisan, Jakarta Barat. Meski masih sanggup mengenali orang yang datang menjenguknya, tapi bicaranya sudah tidak bisa dipahami lagi. Stroke ringan tiga tahun silam membuat langkahnya makin tertatih. Di temani sebilah tongkat yang terbuat dari bahan alumnium tahan karat, lelaki yang mengabdikan hidupnya bagi pelajaran agama di kawasan Kemanggisan dan sekitarnya itu, lebih banyak berbaring di tempat tidur.
Lima tahun lalu, meski sudah masuk usia uzur, Haji Hasan masih bisa memenuhi panggilan para jamaah yang ingin menyerap ilmu agama darinya, terutama nahu dan shorof (ilmu tata bahasa dan gramatikal bahasa Arab). Biasanya, seorang jamaah akan menjemputnya menggunakan sepeda motor. Dengan kain sarung yang disingkapkan sebatas lutut, dia bersedia naik kendaraan roda dua tersebut menuju mushola dan mesjid-mesjid. Tongkat itu akan menemaninya. Dan sebuah tas kulit yang dia tenteng berisi kitab-kitab kuning.
Tapi, meski sulit untuk berjalan, Haji Hasan enggan dibantu, seperti dipapah misalnya. Alasannya lebih ribet dan jadi sulit untuk melangkah. Jadi, bukan karena menolak pertolongan. Pertolongan yang dimintakan biasanya bila dia akan membuka sendal. Dia harus melepas sandal dengan bantuan orang. Kalau tidak, sendal kulit itu akan lama menempel di kakinya meski dikibas berkali-kali. Bukan sendalnya yang lengket, tapi gerakan kakinya yang kelewat lemah.
Bila sudah mengajar, dia akan mampu duduk selama satu jam lebih. Tapi, saat akan bangkit, baginya adalah kerja keras yang luar biasa. Dia akan memegang tongkat terlebih dahulu, lalu kemudian berpegangan pada dinding tembok. Untuk yang satu ini pun dia enggan dibantu orang. Sebab, pegangan orang akan dirasa menyiksa tulang punggung dan kakinya. Gerakan sedikit saja dari orang yang memapahnya akan terasa ngilu di tulang punggung dan kakinya yang sudah lama mengalami pengapuran.
Sebagian orang di Kemanggisan menyapanya "Mualim", sebutan untuk guru mengaji yang ilmunya cukup dalam. Dia juga dihormati di kampungnya, karena beliau adalah salah seorang anak Kyai Haji Junaidi, seorang guru mengaji yang paling dihormati di Kemanggisan. Seorang ustad menyebut Kyai Haji Junaidi sebagai "obor Kemanggisan".
Tapi masa muda Haji Hasan bukanlah dunia pesantren dan kitab kuning. Dia lebih banyak menghabiskan hari-harinya dengan bermusik bersama sesama anak muda Kemanggisan kala itu, sekitar tahun 1940-1950. Haji Hasan adalah pemain biola, biasa disebut piul.
Bila malam tiba, dia akan mendatangi pesta pernikahan ke pesta pernikahan, dari sekumpulan pecinta musik ke kumpulan pecinta musik, dengan tujuan mendendangkan lagu-lagu yang sedang hits kala itu. Belum banyak lagu kasidah, tapi irama India dan Melayu lebih mendominasi. Hasrat menyebarkan ilmu agama belum tampak kala itu.
Tapi, meski seniman musik dikenal agak binal, Haji Hasan dan kawan-kawannya tidak terdengar bermain dalam suasana yang "barbar". Tidak ada tempik birahi dan gelinjang perempuan penggoda. Barangkali, suasana berkesenian waktu itu cukup sopan tanpa sisipan goyang pemikat syahwat.
Aku masih sering mendengar orang-orang tua di Kemanggisan mendendangkan syair lagu lama berirama melayu yang berbunyi:
Teringat masa yang lalu berdua di taman bunga
Selebihnya aku tak hapal lagi. Katanya, lagu ini populer di tahun 1950-an.
Haji Junaidi yang tahu anaknya lebih banyak menghabiskan waktu bermusik daripada berkeliling kampung untuk berdakwah marah besar. Suatu hari, semua peralatan bermusiknya dirusak sampai hancur berantakan. "Gue nyuruh lo sekolah ilmu agama bukan buat main musik," begitulah kira-kira kalimat yang terlontar dari mulut sang ayah yang berang. Setelah itu, Haji Junaidi menyodorkan secarik kertas bertuliskan bahasa Arab. "Nih, baca buat khutbah Jumat nanti, "lanjutnya.
Haji Hasan pun menyerah. Dia harus berani menerima tantangan ayahnya yang meminta naik ke mimbar untuk khutbah Jumat. Semenjak itulah, bermain musik ditinggalkannya. Haji Hasan pun mengambil alih sebagian tugas mengajar sang ayah. Orang-orang Kemanggisan pun tahu bahwa Haji Hasan adalah penerus Haji Junaidi yang ilmu agamanya kesohor itu.
Sayang, dari anak-anak dan cucunya, tak ada satu pun yang mewarisi bakat sang ayah sebagai juru dakwah atau sekadar guru mengaji. Kini, lelaki renta itu hanya menatap cucu-cucunya dari balik jendela di rumahnya di Kemanggisan yang padat penduduk. Setiap lebaran, para kerabat akan berdatangan menemuinya. Dia akan duduk di kursi dan ikut berbincang meski nada bicaranya sudah tak jelas lagi. Encang Haji Hasan, itulah sebutan dari para kerabat dan keponakannya. Wajahnya tetap teduh dan selalu ingin tersenyum. Kerabat dan keponakan yang akan pamit sehabis menjenguknya tak lupa mencium tangan seraya menempelkan uang ala kadarnya.
Di dinding rumahnya terpampang foto dia bersama Mukhsin Alatas. Ketika aku bertanya, pada momen apa Haji Hasan foto bersama penyanyi itu? Tak banyak yang bisa menjelaskan. Aku menduga mungkin dalam salah satu pengajian. Atau barangkali karena sama-sama penggemar musik? Ah, hanya sebuah dugaan.
Monday, November 13, 2006 | 6:55 PM
Tempayan
Saat masih kanak-kanak, aku sering diajak berkunjung ke kampung ibuku di Desa Bojongjati, Sumedang, Jawa Barat. Saat itulah aku mengenal sebuah benda yang bernama tempayan (atau biasa disebut gentong) yang ditempatkan di halaman rumah. Benda yang buncit di bagian tengah itu, biasanya berfungsi sebagai penampung air hujan. Nah, siapa saja yang akan masuk ke dalam rumah, yang masih berupa panggung, akan membasuh kaki dari air dalam tempayan tersebut. Maklum saja, orang belum banyak yang menggunakan alas kaki dan jalanan penuh lumpur.
Hari-hari terakhir ini, memori tentang tempayan kembali hadir. Di halaman rumahku teronggok sebuah tempayan yang kugunakan untuk menyiram pepohonan pagi dan sore hari. Benda berwarna merah marun itu sudah tua, bahkan lebih tua dari penghuni tertua dalam rumahku, yaitu mertuaku sendiri Haji Hanapi yang kini memasuki usia 86 tahun.
Menurut dia, tempayan tersebut sudah ada sejak neneknya masih hidup, Haji Kuna. Nah, bila merunut dari usia para leluhurt tersebut, bisa diperkirakan usia tempayan itu kurang lebih 150 tahun.
Pada masa itu, benda yang beratnya 50 kilogram dengan diameter bagian tengah 40 centimeter itu, menjadi perkakas yang sangat biasa dalam rumah tangga warga Betawi. Bukan hanya warga Betawi sebenarnya, tapi masyarakat Asia pada umumnya.
Ada cerita, ketika benda ini menjadi kebutuhan yang mesti hadir dalam setiap rumah tangga di Kemanggisan. Nyaris di setiap rumah, akan menempatkan tempayan di halaman. Bukan sekadar untuk mencuci kaki, membasuh muka atau mengambil air sembahyang tapi juga penghilang rasa dahaga kala di tengah perjalanan. Mereka yang berlalu lalang, dan tiba-tiba kerongkongan terasa kering dipersilakan mengambil air dalam tempayan di halaman rumah. Siapa saja, tak perlu pernah saling kenal. Dan meski tidak dimasak, air tempayan itu tidak membuat sakit perut atau muntaber. Ya, karena dulu belum banyak polusi. Kala mata air yang jernih mengalir menghidupi setiap orang. Seperti air dalam kemasan yang kini marak diperjualbelikan. Mereka selalu menyebut berasal dari mata air yang jernih.
Bagaimana rasanya?Ini yang agak sulit digambarkan. Tapi, kira-kira sama dengan air yang diambil dalam kulkas, bahkan lebih. Terasa lebih sejuk dan menyegarkan. Sebab, tempayan terbuat dari tanah liar yang bisa membuat air jadi dingin.
Adalah para perantau dari negeri Cina yang disebut-sebut sebagai orang yang membawa tempayan ke Indonesia dan Malaysia, pada abad ke-16. Hampir dalam setiap peninggalan mereka, akan menyisakan tempayan. Di negeri asalnya, tempayan sudah terbiasa dihiasi oleh ukiran naga, burung hong dan juga motif bunga. Mereka menjadikan tempayan sebagai tempat menyimpan kain sutera, ramuan obat dan juga tuak.
Di beberapa suku, selain fungsi utama penyimpan air, tempayan juga diisi makanan, bahan pakaian, hasil permentasi berupa tuak, bahkan salah satu suku di Kalimantan menjadikan sebagai tempat menyimpan mayat. Di Malaysia juga dipakai menyimpan roti, yang kemudian dikenal dengan sebutan roti tempayan.
Mungkin hanya kaka iparku yang menjadikan tempayan sebagai tempat menyimpan oli bekas. Bang Ipin, kakak iparku, yang membuka bengkel motor, entah dari mana datangnya pikiran menjadikan tempayan sebagai pembuangan oli bekas. Setelah bertahun-tahun oli itu tersimpan, aku harus membersihkannya selama tujuh hari (karena kuatnya aroma oli yang menempel di dinding tempayan). Sekarang pun, meski sudah lumayan bersih, masih saja terasa berminyak. Anak tertuaku, Kalam, pernah berseloroh, "Tempayan ini isinya, jin ya?"
Wednesday, November 01, 2006 | 5:05 PM
kawan lama
Seorang kawan lama bersua lagi. Kawan masa SMA dulu. Meski tidak berjumpa secara jasadi, tapi kami bercakap di dunia maya, lewat surat elektronik. Seru dan penuh kenangan. Zeventina namanya. Ayahnya memberi nama demikian, yang terambil dari Bahasa Belanda, 17 artinya. Perempuan yang kini tinggal di Ulm, Jerman itu memang lahir 17 Oktober.
Dulu dia berbadan ramping, dengan mata yang sipit dan berkaca mata. "Tapi sekarang 20 kali lebih gemuk dari dulu,"katanya sambil bercanda. Dari catatan yang dia tulis dalam blog-nya, dia selalu memperlihatkan sikap gembira. Blog-nya sendiri diberi tagline, "Catatan Kebahagiaanku". Mungkin karena sikap bahagia itu yang membuatnya tampak lebih gemuk.
Berkali-kali kami kemudian berkirim surat elektronik. Perlahan, kenangan pada masa lalu itu terkelupas seperti irisan kulit bawang dan kita mencium aroma masa yang telah lewat. Memori di kepala kita memang luar biasa menakjubkan. Dia bisa membuka data itu dengan cermat, dan lalu memilih informasi yang kita butuhkan dan menyimpan yang tidak kita perlukan.
Mengapa setiap pertemuan selalu menghadirkan rasa haru? Aku tak tahu pasti jawabannya. Yang jelas, rasa haru itu kemudian menjelma menjadi catatan yang selalu bisa kita baca. Aku jadi teringat buku yang berkisah tentang NI Pollok, seorang penari Legong Bali, sebagaimana dituliskan oleh Yati M. Miharja. Buku yang diterbitkan oleh Gramedia itu diberi judul "Ni Pollok, Model asal Desa Kelandis." Terbit pada 1976 (aku belum sekolah ketika itu).
Pollok yang dipersuntingkan oleh pelukis asal Belgia Le Meyer itu menuturkan segenap keharuan masa lalunya, pertemuan dengan sang suami dan kisahnya menjadi model lukisan.
Tapi yang paling menawan adalah kisah perkawinannya yang kedua dengan Alliney, dokter asal Italia yang meninggalkannya di Bali, sementara sang suami berkeliling kota-kota dunia. "Aku merindukan saat-saat dia berkirim surat," katanya.
Alliney yang disebutnya "tanah gersang"karena terlalu kaku, berubah menjadi "tumbuhan hijau" justeru karena surat menyurat kepada isterinya di Bali.
Pollok sedang menuturkan arti keharuan pada setiap pertemuan, meski tak pernah berjumpa secara fisik dengan suaminya. Itulah kehebatan memori yang berada di balik kepala. Sulit membayangkan bila kita tak punya kenangan masa lalu. Mungkin seperti "tanah gersang" yang jauh dari rintik hujan.
|
About
Name: iman firdaus
Location: Jakarta, kemanggisan
Iman Firdaus, lahir di Bandung. Saat ini bekerja sebagai wartawan Tabloid Investigasi di Jakarta.
View my complete profile
Recent Post
Archives
Shoutbox
|